Yesusberkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." DALAM bacaan Minggu lalu (Lukas 4:21-30), kita berjumpa dengan Yesus Kristus yang mengajar banyak orang di sinagoga di Nazareth. Hari ini kita membaca bahwa Yesus menghadapi banyak orang di danau dan di sana Ia mengajar mereka. Meskidemikian, belum dijelaskan kapan sang pelatih akan bertolak ke Indonesia. "Kami ingin informasi yang akurat tentang jadwal dan persiapan TC Timnas U-19. Jadwal saya dan tim pelatih dari Korea Selatan ke Indonesia, lalu periode isolasi, tempat isolasi, dan jadwal selama periode isolasi," kata Shin Tae-yong dalam keterangan resmi yang Bertolaklahke tempat yang lebih dalam, bukan sekedar ajakan biasa-biasa saja. Bertolaklah lebih dalam berarti harus meninggalkan stabilitas loci, tempat yang nyaman. Maka kita pun telah siap untuk bertolak lebih dalam. Bertolah lebih dalam, sama dengan kita pergi mencari dan menyelamatkan yang miskin papa, yang sakit dan tanpa hunian CorneaKhairany. Kontingen Sulawesi Selatan akan bertolak ke Papua untuk mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI pada 3 November 2021 atau dua hari sebelum pembukaan. Ketua National Paralympic Commite (NPC) Sulsel Kandacong mengatakan kontingen yang akan berangkat berjumlah 60 orang, yang terdiri dari atlet, pelatih dan ofisial. BERTOLAKKE TEMPAT LEBIH DALAM "Bertolaklah lebih ke dalam dan tebarkan jalamu" mungkin bagi Petrus dan kawan-kawannya yang berpengalaman dalam dunia nelayan, seruan Yesus ini agak ganjil. Sudah MLZC44. Bertolak ke Tempat yang Lebih Dalam in altum ducere adalah sebuah situs yang berisi refleksi filsafat dan teologi atas beragam fenomena. Manusia ibaratnya pelaut yang harus “bertolak ke tempat yang lebih dalam” untuk mendapatkan pengalaman yang mengesankan sekaligus mengalahkan dirinya untuk tidak berpuas diri menjadi “manusia rata-rata”, tetapi menjadi dirinya yang sejati. Ombak di “laut dalam” lebih besar dan menantang ketimbang di area pesisir. Orang yang menyadari bahwa hidup adalah petualangan life is an adventure pasti memilih untuk menghadapi ombak yang lebih besar. Kelak ia akan mensyukuri tindakan keberaniannya itu. Filsafat dan teologi bukan lagi konsumsi para teolog dan filsuf, melainkan kebutuhan semua orang, yang hidup di era teknologi-globalisasi dengan melonjaknya indeks infotech dan biotech, yang kian terbuai oleh semilir angin pantai namun lupa akan ombak besar di tengah lautan sana. Mari menantang diri di tengah “kenikmatan semu” jamuan teknologi-globalisasi. Be brave dan bertolaklah ke tempat yang lebih dalam! JAKARTA, - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB Letjen TNI Suharyanto bertolak ke Provinsi Riau, pada Rabu 7/6/2023 pagi. Kepergiannya ke sana untuk memimpin rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan karhutla bersama seluruh unsur Forkopimda se-Provinsi Riau. Ia dijadwalkan akan meninjau titik lokasi karhutla secara langsung melalui juga BMKG Sebut 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Siaga Karhutla dan KekeringanSuharyanto mengatakan, peninjauan diperlukan lantaran Indonesia akan memasuki musim kemarau yang lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya karena pengaruh dari El Nino. “BNPB akan fokus ke kebakaran hutan dan lahan. Karena prediksi BMKG pada 2023 ini kemaraunya lebih kering," kata Suharyanto dalam siaran pers, Rabu 7/6/2023. Dia menyampaikan, pihaknya akan lebih fokus dalam upaya pencegahan hingga penanganan darurat bencana hidrometeorologi kering, mulai dari antisipasi kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan akibat faktor cuaca. Sebab, berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, potensi kejadian karhutla akan lebih besar dari tiga tahun terakhir. Adapun menurut data sementara per 1 Juni 2023, sudah ada 112 kejadian karhutla di juga Titik Api Mulai Bermunculan, Pemprov Kalsel Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla Sementara itu, tujuh wilayah akan mendapat perhatian khusus dari BNPB, meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur. Hingga saat ini, status siaga darurat bencana karhutla dan kekeringan telah ditetapkan di seluruh provinsi tersebut per 29 Mei 2023. "Diprediksi potensi kejadian karhutlanya lebih besar dari tiga tahun terakhir,” tuturnya. Suharyanto menilai, ketujuh provinsi prioritas itu memang menjadi langganan bencana karhutla setiap tahun. Baca juga Ditangkap, Pelaku Karhutla di Dumai Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara Oleh sebab itu, mantan Pangdam V Brawijaya itu akan turun langsung ke lapangan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan dengan baik sehingga dampak terburuk dapat diminimalisir. Sebelumnya, BNPB juga telah mendukung operasi penanganan karhutla di Bumi Lancang Kuning dengan menyiagakan helikopter untuk patroli hingga water sisi lain, BNPB bersama BRIN, BMKG, dan TNI juga mengupayakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca TMC sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi potensi kejadian kebakaran hutan dan lahan. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Saudara/saudariku terkasih, Tiga bacaan hari ini menampilkan tiga tokoh yang, kalau kita mau selamat akhirat dan bahagia di dunia mulai besok pagi, wajib kita teladani Nabi Yesaya, Rasul Paulus, dan Simon Petrus dkk. Mereka merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan, mengosongkan batinnya, dan siap mengikuti Yesus. Kata Yesus kepada Simon Petrus, duc in altum, bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Apa reaksi Simon Petrus? Ini alur perubahannya. Pertama, ketika awalnya dia melihat Yesus menaiki perahunya, dia tersungkur melihat Yesus dalam perasaan kerendahan dan kehinaannya. Bagaimana dengan kita? Tentu kita kita tidak sebaik Simon Petrus. Masih baik dia menyadari Tuhan menaiki perahunya. Kita sering terlalu asyik dengan kesenangan duniawi kita sehingga alih-alih merendah dan tersungkur, sadar akan kehadiran-Nya saja tidak. Kita tahu jam kerja dimulai pukul tetapi lebih sering kita baru buka komputer jam Kita yakin virus sudah menyebar luas hari ini 36 ribuan, dan kita warga atau pimpinan unit atau anggota gugus tugas, tapi “sengaja lupa” menjaga jarak. Lupa yang sengaja, lupanya zaman now. Kita tahu hari ini seragam apa, tetapi kita pura-pura mati lampu sehingga salah mengeluarkan baju dari lemari, termasuk saya. Kita paham harus berbahasa Inggris karena itu penting agar sekolah ini diminati, tetapi kita malas untuk itu dan tidak merasa bersalah. Kita sering gagal melihat kebaikan-kebaikan sehari-hari sebagai bentuk nyata kehadiran Tuhan. Kita paham harus mengajar secara benar, tetapi RPP saja kita bikin ala kadarnya, padahal kita masih mampu membuatnya lebih baik, ada waktu, ada sumber daya, dan kita tidak merasa bersalah. Boro-boro kita menyadari kelemahan diri, anak yang tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis saja kita beri omelan seolah dia serba salah tanpa berpikir sedikitpun bahwa dia seperti itu karena cara kita membimbing dan mengajar masih banyak kekurangannya. Boro-boro tersungkur merendah di hadapan Tuhan, Kitab Suci di rak, simbol suci serta gambar orang kudus, serta foto orang tua yang ada di dinding kos-kosan anak muda saja sering serasa diajak menonton pasangan muda itu berpacaran entah seperti apa tanpa berpikir hari esok. Rupanya tulang kita zaman now sudah tidak ada sendinya untuk membungkuk apalagi tersungkur di hadapan kebesaran Tuhan. Kedua, Simon Petrus mempertanyakan perintah Yesus. Dia memang tersungkur merendah, namun pada saat yang sama arogansi kemanusiaannya mengemuka sehingga hatinya campur-aduk antara merendah atau membantah Yesus dengan sempat-sempatnya protes dan mempersoalkan bahwa mana mungkin di siang bolong mereka bisa mendapatkan ikan, sedangkan semalam-malaman mereka kerja keras, tidak mendapatkan apa-apa. Akan tetapi, rasa rendah dirinya di hadapan Tuhan, iman kepasrahannya kepada Tuhan jauh lebih kuat dibandingkan rasionalitas kemanusiaannya. Rasionalitas kalah. Iman menang. Dia bertolak ke kedalaman. Lalu bagaimana dengan kita? Rasionalitas salah sering menguasai kita. Iman justru kalah. Misalnya, mindset ini “Saya hanya seorang perantau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara.” Rasa sebagai perantau, tamu di tanah orang, terbawa-bawa terus. Kita menjadi orang asing di RT/RW, tidak merasa sebagai warga penuh yang ikut menjaga kehidupan yang baik. Mengumpulkan surat domisili, misalnya, menjadi beban bagi kita karena harus mencari Ketua RT, RW, Kepala Desa, dst. Rasa keterasingan itu terbawa sampai ke Lingkungan, Wilayah, OMK dan kelompok kategorial, serta di tingkat Paroki. Di gereja ada yang mungkin merasa sebagai tamu tulen. Alih-alih kita membawa pembaharuan dalam kehidupan paroki, ketika beribadat saja kita lebih asing dari tamu, yakni hanya penonton, sehingga kita tidak menjawab dialog misa, tidak menyanyi, tidak pernah menjadi petugas liturgi dst. selain yang digerakkan atas nama Sekolah. Dengan itu, kita merasa belum waktunya menjalankan tugas perutusan sebagai murid Yesus. Apalagi kalau usia masih muda. Apalagi kalau belum married. Lalu kapan dan di mana kita akan bisa menjadi tuan bagi hidup dan lingkungan sosial kita untuk menempatkan diri dalam tugas perutusan? Kalaupun suatu ketika kita pensiun atau pindah dari sini, hidup kita saat itu di tempat itu tergantung pada hidup kita saat ini di tempat ini. Sesungguhnya yang kita jalani di tempat kerja atau di RT/RW atau di Paroki bukan persiapan hidup, melainkan hidup itu sendiri, karena usia kita tidak di-freeze, melainkan jalan terus. Marilah kita membuka diri kita dan hati kita akan kehadiran Tuhan lewat orang-orang di sekitar kita, apapun agamanya, sukunya, profesinya, dst. Kita hidup dengan saudara-saudara kita itu; yang di kampung hanya akar rumput yang lama-lama juga akan asing dengan kita. Yesus ada di sini, saat ini, tidak menunggu nanti. Mari kita buka hati dan melaksanakan tugas perutusan kita sekarang dan di sini. Tugas perutusan itu tidak harus dalam arti pergi ke benua lain sebagai misionaris untuk hidup dan mewartakan kabar sukacita secara selibat. Tugas perutusan adalah menjalani hidup dengan benar untuk diri sendiri dan bersama orang-orang di kiri, kanan, depan, dan belakang kita. Itu yang paling mudah. Ketiga, Simon Petrus akhirnya bertolak bergeser ke tempat yang lebih dalam dan menebar jala di siang bolong. Istilah siang bolong menggambarkan ironi keanehan dari sisi rasionalitas manusia. Kita juga sering menyebut kesadaran atau tindakan yang terlambat dan kelihatan akan sia-sia sebagai mimpi di siang bolong. Ternyata mindset itu harus diubah. Tidak ada kata terlambat, tidak ada kata telanjur basah. Yang namanya pembaharuan diri itu tidak kenal waktu. Begitu disadari, langsung berubah. Percayalah, kalau kita berubah, ikan yang kita jala akan berlimpah. Jangan berlama-lama membuang waktu dengan rasionalitas ego kita. Kalau selama ini kita enggan membaca Kitab Suci dan membuat renungan hanya karena kewajiban, itu pasti kurang membawa manfaat bagi perbaikan diri kita. Sudah nyata-nyata buang waktu, tapi karena kita kurang melandasi tindakan kita dengan kesungguhan dan kesadaran yang benar, maka hasilnya bagi peningkatan khazanah spiritual kita sangat minim. Itulah yang digambarkan dengan kenyataan Simon Petrus yang sibuk semalam-malaman tanpa hasil, karena tidak dengan fondasi keyakinan akan kuasa Tuhan. Beberapa contoh lain hidup kita yang hanya buang-buang waktu bagai menebar jala di tempat yang dangkal antara lain misalnya 1 Mengerjakan sesuatu asal jadi, yang penting ada yang bisa ditunjukkan ke atasan. Kita pasti tidak bertumbuh dalam cara kerja itu. 2 menerima tugas mengajar tetapi gagal menyenangi dunia anak-anak. Yang seperti ini hanya akan buang-buang waktu dan sekedar mendapatkan gaji bulanan, yang bukan apa-apa di mata Tuhan, dan bukan apa-apa untuk kekayaan kualitas hidup spiritual. 3 jatuh cinta dan menjalani hidup sebagai pacar satu terhadap yang lain tetapi tidak kunjung ada titik terang ke mana hubungan mau dibawa selain untuk mengisi rasa kesepian. Masih banyak contoh lainnya. Kesemuanya itu membutuhkan tindakan banting setir kita, ngeden mengeluarkan tenaga terbesar kita untuk bangkit dan melawan kenyamanan semu itu, menata kembali semuanya, dan memindahkan perahu kita ke tempat yang lebih dalam, melakukan segala sesuatu secara lebih berisi dan memandang ke depan. Mari berhenti berputar-putar tanpa juntrungan di air yang cetek, berhenti bekerja atau bertindak hanya demi hal dangkal di permukaan misalnya sekedar memenuhi kewajiban, bagi yang muda berhenti menghabiskan hari ini tabungan bahagia hari depan supaya pada waktunya nanti bahagia itu masih ada. Mari kita hidup secara lebih berisi. Itulah makna duc in altum. Ternyata, untuk maju dalam hidup itu dibutuhkan program kerja pribadi. Program kerja adalah uraian dari tujuan. Tujuan adalah uraian dari misi pribadi. Misi pribadi adalah uraian dari visi. Kalau itu semua kita sempatkan untuk disusun dengan permenungan yang mendalam, dan menggetarkan jiwa kita untuk mendapatkan apa yang kita impikan, maka program kerja pribadi itu akan menjadi hidangan yang lengkap di meja perjamuan. Akan tetapi … sebuah hidangan tidak bisa tiba-tiba ada di meja hidangan. Hidangan di meja makan itu adalah wujud kepiawaian manajerial kita. Dibutuhkan kompetensi spiritual untuk mengerjakan hal-hal manajerial itu. Kompetensi spiritual ibarat segala yang kita lakukan di dapur sampai hidangan dikemas dan diantar ke meja perjamuan. Kompetensi spiritual itu kita dapatkan hari ini. Yesaya MAU diutus. Paulus MAU diutus. Murid-murid Yesus MAU diutus. MAU adalah singkatan dari M Merendahkan diri di hadapan Tuhan, memasrahkan segalanya kepada Tuhan, percaya, tanggalkan kesombongan ego, berani telanjang sejujur-jujurnya di hadapan Tuhan. A Ada keterbukaan hati agar Tuhan masuk ke dalam diri kita. Kalau berdoa, jangan cepat-cepat ingin berbicara dan mendikte Tuhan, tetapi dengarkan dulu suara Tuhan. Kalau bertindak, ingat Tuhan, ingat sesama, ingat orang tua kita, ingat orientasi masa depan kita, ingat anak/istri/suami, dst. U Usaha meninggalkan kenyamanan semu, tanpa syarat. Kalau ragu, kembali ke M dan A. Semoga bermanfaat. Doktrin adalah ajaran resmi Gereja yang hendaknya diterima sebagai suatu kebenaran iman yang bisa mengantar umat pada suatu Kebenaran sejati, yakni Allah yang berkarya dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yang diramu dalam bahasa manusia sesuai dengan konteks zaman. Sebuah doktrin dikatakan benar sejauh tidak melenceng dari sumber iman kita yakni Kitab Suci. Sebagai sebuah penuntun, doktrin diharapkan bisa menjadi bagaikan suluh bagi umat beriman dalam kegelapan zaman agar umat beriman tetap berada pada jalan yang benar hingga akhirnya bisa tiba pada tujuan akhir dari perjalanan hidupnya yakni persatuan abadi dalam kebahagiaan kekal bersama dengan Allah Tritunggal. Maka, doktrin bukan sekadar aturan-aturan, pernyataan, atau propoisi mati, melainkan sesuatu yang hidup. Mengapa hidup? Karena ia membantu umat beriman dalam hidupnya dan mengantar umat beriman pada kehidupan. Maka, dalam arti tertentu, doktrin menjadi sesuatu yang menghidupkan. Sebagai sebuah ajaran, doktrin mengalami perkembangan. Karl Popper mengatakan, “Ajaran yang sejati adalah ajaran yang terbuka terhadap verifikasi dan falsifikasi”. Bagi penulis, doktrin Gereja dalam arti tertentu terbuka terhadap verifikasi dan falsifikasi dalam perkembangannya yang hadir dalam sejarah manusia yang selalu berubah. Ajaran mengenai Kristologi, misalnya, memiliki perkembangan mulai dari zaman patristik, abad pertengahan, abad pencerahan, kontemporer, hingga dalam konteks pluralitas agama dunia. Jadi, verifikasi dan falsifikasinya, dalam bahasa Popper, terletak pada daya-guna menghadapi tantangan zaman. Ibaratnya sebuah masakan, bahan-bahan yang ada beserta bumbu-bumbunya perlu diracik sedemikian rupa agar sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen tanpa mengubah bahan pokoknya. Sebagai sebuah ajaran autoritatif, sebuah doktrin memiliki tingkatan hirarkis perihal mana yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi di atas yang lain, karena tidak semua doktrin memiliki derajat yang sama. Konstitusi dalam Konsili Vatikan, misalnya, memiliki derajat yang lebih tinggi dari ensiklik dan anjuran apostolik yang dikeluarkan oleh seorang paus. Yang lebih penting lagi ialah, sebuah doktrin selalu sejalan dengan apa yang diwartakan oleh kitab suci dan telah diimani oleh para rasul. Maximus Confessor Dalam hal kesaksian, Maximus adalah seorang martir yang diakui di Gereja Timur. Lidah dan tangannya dipotong karena tetap mempertahankan doktrin yang benar. Melalui tindakannya ini, ia memberi sebuah sumbangan yakni doktrin yang sejati adalah sebuah kesaksian hidup akan iman, bahkan jika iman yang benar itu harus mempertaruhkan nyawa. Melalui kisah hidupnya, kita dapat terinspirasi bahwa doktrin adalah sebuah kesaksian hidup. Dalam hal ajaran, Maximus berupaya menyapa konteks umat pada saat itu dengan menguraikan identitas Yesus sebagai Tuhan sebagaimana yang diimani dalam itilah-istilah yang lazim pada saat itu, misalnya menguraikan tentang Logos, being, well being, dan eternal being. Maximus mau menggunakan bahasa yang lazim pada zamannya untuk menyapa umat sesuai dengan konteks hidupnya. Dalam hal kekhasan, Maximus menekankan tentang pedagogi untuk membahasakan ajaran iman. Salah satu yang terkenal ialah mistagogi, sebuah istilah yang berakar dari dua kata “mysterium” dan “paidagogos”. Dari sini kita bisa terinspirasi bahwa suatu doktrin memiliki kekhasan, dan kekhasan itu tidak terlepas dari konteksnya. St. Agustinus Agustinus mengajarkan bahwa sebuah doktrin sejatinya juga berakar dari sebuah pengalaman eksistensial. Sebuah doktrin bukan sesuatu yang mengawang-awang, tetapi sesuatu yang berasal dari hal yang sangat dasariah yakni pengalaman disapa dan disentuh bahkan dibersihkan oleh Tuhan dalam hidup. Maka, sebuah doktrin sejatinya merupakan bahasa dari pengalaman iman eksistensial akan karya penyelamatan Allah dalam diri manusia. Dalam hal ini, hati nurani yang diterangi oleh wahyu ilahi dalam tuntunan Sabda yang benar memiliki peranan penting. Maka, boleh dikatakan bahwa menurut Agustinus, doktrin merupakan wujud bahasa hati. St. Thomas Aquinas Dalam hal pertanggung-jawaban, Thomas Aquinas mengajarkan bahwa doktrin itu bukan sesuatu yang mengada-ada. Doktrin itu bukan sebuah ilusi. Doktrin semestinya berasal dari akal budi dan bisa dipertanggungjawabkan oleh nalar manusia. Maka, sebuah doktrin harus memiliki dasar-dasar logis berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Dalam hal ini, rasio memegang perana penting, khususnya dalam hal pertanggung-jawaban iman. Berkaitan dengan hal tersebut, bahasa iman harus terwujud dalam struktur yang jelas sesuai dengan kaidah yang diterima oleh nalar manusia, karena bagaimana pun juga iman membutuhkan pemahaman. Martin Luther Dari Marthin Luther, kita bisa belajar bagaimana mesti kembali kepada sumber dari doktrin itu sendiri yakni Kitab Suci. Banyaknya buah pemikiran dan teori dalam Gereja oleh para intelektual tidak jarang membuat kita terlena, sehingga melupakan apa yang semestinya menjadi sumber utama iman kita, yakni Kitab Suci. Gerakan kembali ke sumber menjadi poin penting yang ditawarkan oleh Luther. Bagaimanapun juga, Kitab Suci menempati peranan yang sangat sentral dalam perkembangan doktrin. Selain itu, gerakan Luther juga mengingatkan kita akan pentingnya memperhatikan iman eksistensial yang bekembang dalam hidup umat beriman agar lebih menyapa. Dengan demikian, doktrin bisa menjadi semacam ramuan yang sungguh berkhasiat bagi setiap insan yang sedang bergulat dengan berbagai macam kelemahan rohaninya. Konsili Trente Konsili Trente yang melawan Luther mengingatkan kita, bahwa bagaimana pun juga, Kitab Suci sebagai sumber tetap membutuhkan sebuah tafsiran autoritatif, sehingga kita masih membutuhkan para Bapa Gereja sebagai orang-orang yang masih dekat dengan para rasul. Maka, tradisi tetap memiliki peranan penting. Konsili Trente juga mengingatkan bahwa iman yang eksistensial tidak boleh melangkahi apa yang menjadi iman bersama, iman komunal, iman Gereja universal. Maka, sebuah doktrin seharusnya merupakan bahasa yang mengungkapkan iman Gereja secara universal sesuai dengan Kitab Suci dan ajaran para rasul. Bagaimana suatu ajaran atau pemikiran seseorang menjadi doktrin? Suatu ajaran bisa menjadi doktrin jika Sejalan dengan apa yang diwartakan oleh Kitab Suci Bagaimanapun juga Kitab Suci tetap memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan doktrin. Kitab Suci adalah bertentangan dengan inti keyakinan iman para rasul dan Tradisi Suci sebuah doktrin mesti selalu ada dalam koridor yang telah diimani oleh Gereja sejak awal. Sebuah doktrin tidak jatuh dari langit tetapi lahir dalam sejarah perkembangan iman umat menyapa dan menjawab tantangan iman umat sesuai dengan konteks Sebuah doktrin lahir dalam sejarah dalam konteks tertentu demi menjawab suatu persoalan tertentu berkaitan dengan pergulatan iman umat. Diterima secara umum, diakui oleh otoritas berwenang, dan tidak menimbulkan skandal dalam kehidupan umat konteks hidup Gereja, doktrin dinyatakan benar dan disahkan oleh kekuasaan tinggi Gereja sebagai legitimasi atas autoritas ajaran. MR Pabubung Duc in Altum Bertolaklah ke tempat lebih dalam Dalam kehidupan kita sehari-hari kerapkali kita mendengar tentang orang yang berprofesi sebagai nelayan penjala ikan. Mereka yang setiap hari pergi menangkap ikan ke laut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mereka yang hidup dekat dengan pantai akan lebih mengerti soal menangkap ikan daripada mereka yang tinggal jauh dari pantai perkotaan. Injil yang disampaikan kepada kita hari ini berbicara tentang seseorang yang berprofesi sebagai nelayan. Nelayan yang bernama Simon yang diceritakan dalam Injil hari ini kurang beruntung karena sepanjang malam tidak mendapatkan hasil yang memuaskan seperti yang dia harapkan sebelumnya. Keputusasaan yang dihadapi tersebut berubah menjadi sukacita karena Yesus penyelamat dunia datang menghampirinya di tepi pantai. Kedatangan Yesus ke pantai tidak hanya mengajarkan atau mewartakan firman Allah tetapi juga ikut serta menebarkan jala di tengah Danau Genesaret. Setelah Yesus selesai berbicara kepada orang banyak, Yesus berkata kepada Simon “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan“. Jika dipikirkan lebih kritis, bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu yang hidupnya jauh dari pantai mengatakan kepada orang yang berprofesi sebagai nelayan,“bertolaklah ke tempat lebih dalam dan tebarkanlah jalamu“ ? Pada awalnya Simon merasa ragu akan perkataan Yesus tersebut karena sudah satu malam menjala ikan tetapi tidak mendapatkan apapun. Selain itu, Yesus menyuruh Simon menjala ikan sesudah matahari terbit atau tengah hari. Akan tetapi karena ketaatannya kepada Yesus dan karena Yesus sendiri yang mengatakan, dia bersama teman-temanya berangkat ke tengah danau untuk menjala ikan. Setelah mereka menebarkan jala, mereka menangkap sejumlah ikan besar sehingga jala mereka mulai koyak. Perkataan Yesus tersebut menjadi gambaran bagi kita bahwa untuk memperoleh sesuatu yang berlimpah harus berani bertolak ke tempat yang lebih dalam. Simon yang pada awalnya penjala ikan dipanggil Allah untuk menjadi penjala manusia. Dipanggil untuk mewartakan firman Allah kepada orang-orang yang belum mengenal atau percaya kepada Allah. Tahun ini merupakan Tahun Lembaga Hidup Hakti. Teladan yang diberikan Simon tentang ketaatan atas perintah Yesus dapat menjadi pegangan yang sungguh berarti bagi semua orang yang percaya kepada Yesus. Para religius yang dipanggil Allah dari berbagai tempat dituntut untuk lebih mementingkan perkara-perkara surgawi. Melayani sesama dan mewartakan karya keselamatan ke sudut-sudut dunia merupakan panggilan kita sebagai pengikut Yesus Kristus. Bertolak ke tempat yang lebih membutuhkan pelayanan adalah salah satu tanda bahwa kita taat kepada Allah. Kita yang mengikuti Yesus harus berani menebarkan “ jala“ ke tempat-tempat yang haus akan cinta kasih yang berasal dari Tuhan. Dengan menebarkan jala mewartakan sabda Allah, maka akan banyak orang yang mengenal Allah dan sekaligus percaya bahwa Dialah pemilik segala sesuatu yang baik. Fr. Thomas Lumban Gaol OFM Cap

bertolak ke tempat yang lebih dalam